Zaman keemasan (golden ages) peradaban Islam --abad ke-7 sampai 15-- tidak hanya melahirkan ulama-ulama atau generasi yang mumpuni di bidang keagamaan. Era itu juga banyak melahirkan para ilmuwan di berbagai bidang. Mereka banyak menemukan teori-teori baru dan membuat berbagai macam peralatan atau temuan-temuan yang kelak mempunyai arti penting dalam sejarah peradaban dunia. Termasuk di antaranya temuan-temuan di bidang matematika.”Unggul dalam IMTAQ dan IPTEKS serta berjiwa Humanis”
Blogroll
Jumat, 21 Februari 2014
Kontribusi Ilmuwan Muslim di Bidang Matematika
Zaman keemasan (golden ages) peradaban Islam --abad ke-7 sampai 15-- tidak hanya melahirkan ulama-ulama atau generasi yang mumpuni di bidang keagamaan. Era itu juga banyak melahirkan para ilmuwan di berbagai bidang. Mereka banyak menemukan teori-teori baru dan membuat berbagai macam peralatan atau temuan-temuan yang kelak mempunyai arti penting dalam sejarah peradaban dunia. Termasuk di antaranya temuan-temuan di bidang matematika.
Label:
ARTIKEL KEISLAMAN
Kamis, 20 Februari 2014
DIALOG ANTAR ALIRAN PENDIDIKAN
Berbagai pemikiran yang di tampilkan oleh masing-masing aliran filsafat pendidikan bergulir bangunan epistemologi masing-masing. Progresivisme umpamanya memeiliki keyakinan ontologis bahwa manusia adalah makhluk yang memeiliki kemampuan yang memadai secara potensial untuk menghadapi dan mengatasi berbagai problem kehidupannya menuju suatu perkembangan yang lebih baik dan lebih sempurna yang mengarah pada yang progres.
Pendidikan dalam hal ini di pandang sebagai suatu motor bagi penumbuh kembangan kemampuan dasar subjek-subjek didik ini agar fungsional dalam menghadapi dan memecahkan berbagai kesulitan hidup. Dengan demikian, mereka akan memiliki kemandirian dalam pengambilan sikap berdasarkan cara-cara logis dan dapat di pertanggung jawabkan secara ilmiah. Berbagai ragam ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bukti nyata bagi fungsionalitas kemampuan manusia dalam memecahkan problem-problem kehidupannya,
dan sekaligus akan menjadi modal bagi pengembangan kearah ,pengetahuan dan teknologi baru yang adalah juga akan menjadikan langkah kemajuan-kemajuan selanjutnya tanpa henti.
1.ALIRAN PROGESIVISME
Aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, filsafat progesivisme tidak menyetujui pendidikan yang otoriter
PENDIDIKAN DALAM KONTEKS PROGRESIVISME
Memberikan pengalaman empiris kepada subjek-subjek didik agar ia memiliki kemampuan ilmiah dalam memecahkan berbagai problem kehidupan agar ia siap menghadapi berbagai perubahan dalam suatu kehidupan dimasyarakatnya.
Progresivisme memandang ilmu pengetahuan sebatas pengembangan dan pemahaman pengetahuan dengan mengatakan bahwa suatu pengetahuan yang berangkat dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat.
Pahaman yang di maknai dalam konteks studi ilmiah terhadap masyarakat tentu masyarakat di sini mesti pula di pandang sebagai suatu realitas yang terpisah dari subjek penelitian dan berjalan seper layaknya alam.
Suatu keilmuan lahir selalu berkenaan dengan problem yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupannya. Pengembangan keilmuan sangat tergantung pada cara pandang seseorang atau sekelompok orang dalam memandang realitas.
2. ALIRAN ESENSIALISME
Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Karena memendang bahwa entitas manusia sangat ditentukan oleh ragam struktur kebudayaan yang membentuknya , maka diperlukan pendidikan yang bersendikan atas azas-azas yang tetap yang akan mendatangkan kestabilan. Azas-azas yang tetap ini hendaknya azas yang benar-benar telah terujui waktu.
Contoh dari aliran esensialisme
Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunyai bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman atau pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi pada benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai substansi spiritual yang membina dan menciptakan diri sendiri.
3. ALIRAN REKONSTRUKSIONISME
Aliran rekonstruksionisme percaya, bahwa pengembangan watak manusia mesti selalu berinteraksi dengan kondisi-kondisi yang mengelilinginya. Suatu kebudayaan lahir berdasarkan pada pola adaptasi yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan lingkungan masyarakatnya.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Mengingat manusia adalah bagian terpenting dalam sebuah masyarakat, maka apa pun yang ia lakukan selalu berkenaan dengan pembentukan kebudayaan. Pembentukan kebudayaan ini sangat tergantung pada aspek kebebasan yang memang merupakan hak esensial manusia. Demokrasi mestilah menjadi asas penting dalam kehidupan social dalam skala apa pun.
Aliran Rekonstruksionisme memiliki presepsi sebagai berikut:
bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu.
Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.
Sumber :
http://mtsn34.org/Artikel-Lepas/
Label:
ARTIKEL PENDIDIKAN
Selasa, 18 Februari 2014
MANAJEMEN PENDIDIKAN
Manajemen merupakan ilmu, kiat, seni dan profesi. Dikatakan sebagai ilmu, menurut Gulick (1965) dalam Satori (2006:10), karena manajemen dipandang sebagai suatu bidang pengetahuan yang secara sistematis berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang bekerjasama. Dikatakan sebagai kiat, menurut Follett, karena manajemen dilandasi oleh keahlian khusus untuk mencapai suatu prestasi manajer dan para profesionalnya dituntun oleh suatu kode etik. Sifat khusus yang utama manajemen adalah integrasi dan penerapan ilmu serta pendekatan analisis yang dikembangkan oleh banyak disiplin ilmu. Manajemen sebagai seni karena dalam melaksanakan fungsi dan prinsip manajemen dihadapkan kepada masalah-masalah yang kompleks yang membutuhkan seorang pemimpin yang memiliki seni memimpin yang dapat mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen sebagai profesi dilandasi oleh nilai-nilai etik organisasi yang membutuhkan keahlian khusus yang tidak sembarangan orang dapat melakukan pekerjaan manajerial secara profesional seperti yang digariskan dalam kerangka ilmu manajemen pendidikan.
Apabila dilihat dari sistem pelaksanannya, manajemen dapat dikatagorikan menjadi
- Manajemen ilmiah (scientific management), yaitu manajemen yang bercirikan penerapan ilmu pengetahuan dan metode ilmiah.
- Manajemen tertutup yang mempunyai ciri pemimpinnya membuat keputusan tanpa melibatkan atau partisipasi dari stafnya atau anggota organisasi.
- Manajemen terbuka (open managemant), yaitu suatu sistem pelaksanan manajemen yang didalam seseorang manajer atau pemimpin sebelum pengambilan keputusan melibatkan staf atau anggota organisasi sebelum keputusan ditetapkan.
Adapun perubahan-perubahan dalam manajemen itu dapat diarahkan pada berbagai sarana, antara lain:
- Perubahan stuktur organisasi yang meliputi penambahan, pengurangan satuan, mengubah sistem sentralisasi menjadi desentralisasi, menyesuaikan prinsip-prinsip pemberdayaan, asas organisasi dan manajemen yang efektif.
- Mengakomadir perubahan melalui proses manajemen strategis yang senantiasa terjadi dalam manajemen.
- Perubahan prilaku orang-orang atau aparat pendidikan dalam hal prilaku komunikasi, pelayanan, etos kerja dan peningkatan pengetahuan dan keterampilan baik melalui institusi maupun diri sendiri.
- Penyesesuaikan terhadap sarana prasarana organisasi dan manajemen termasuk pemanfaatan teknologi pendidikan (Sagala, 2004:18).
Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan
Para
pakar pendidikan memiliki pandangan yang hampir sama bahwa fungsi
manajemen yakni agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai secara
efektif dan efesien. Secara umum fungsi manajemen dapat diklafikasikan
menjadi dua fungsi utama yaitu:
- Fungsi-fungsi organik adalah semua fungsi yang mutlak dijalankan oleh manajemen dan.
- Fungsi-fungsi pelengkap yaitu semua fungsi yang meskipun tidak mutlak dijalankan oleh organisasi, namun sebaiknya dilaksanakankarena pelaksanan fungsi-fungsi itu dengan baik akan meningkatkan efisiensi dalam pelaksanan kegiatan (Suanto, 1995:13).
Fungsi
dan prinsip manajemen pendidikan mestinya melibatkan semua unsur yang
terlibat dalam memajukan pendidikan dalam berbagai dimensi aktifitas
pendidikan. Fungsi dan prinsip manajemen dapat dilakukan melalui
tahap-tahap berikut:
- Membuat Putusan. Proses pembuatan keputusan hendaknya melibatkan berbagai unsur yang terlibat dalam suatu organisasi.
- Merencanakan. Perencanaan merupakan persiapan yang terarah dan sistematis agar tujuan dapat tercapai secara efektif dan efesien.
- Mengorganisasikan. Mengorganisasikan bertujuan agar pekerjaan yang akan dilaksanakan dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
- Mengkomunikasikan. Mengkomunikasikan berarti menyampaikan berbagai informasi, ide, gagasan, pemikiran, pertanyaan, penjelasan, kebutuhan dan lain-lain dari orang yang satu kepada yang lain atau dari pemimpin kepada bawahan.
- Mengkoordinasikan. Mengkoordinasikan adalah serangkain kegiatan untuk sumber lain yang terdapat dalam organisasi itu ke arah pencapaian tujuan-tujuan yang telah disepakati bersama (Oteng Sutisna, 1996).
- Mengawasi. Pengawasan merupakan bagian penting yang tidak dapat diabaikan untuk mengetahui proses kegiatan organisasi itu berjalan.
- Menilai. Penilaian merupakan fungsi dan prinsip manejemen untuk mengetahui apakah suatu program organisasi mencapai tujuan atau tidak.
Kepemimpinan efektif dalam manajemen pendidikan
Kepemimpinan
dalam manajemen pendidikan merupakan faktor kunci keberhasilan suatu
organisasi. Kepemimpinan merupakan inti dalan manajemen pendidikan. Maju
mundurnya suatu organisasi banyak dipengaruhi oleh faktor
kepemimpinannya. Pemimpin yang jujur, tanggung jawab, transparan,
cerdas, memahami tugas dan kewajibabnya, memahami anggotanya, mampu
memotifasi, dan berbagai sifat yang baik yang terdapat dalam diri
seorang pemimpinhttp://mtsn34.org/manajemen-pdk.html
Label:
ARTIKEL PENDIDIKAN
PEMBELAJARAN BERBASIS ANDRAGOGIK
Istilah Andragogi diambil dari bahasa Yunani, andr dan agogo. Andr
artinya dewasa dan agogo berarti membimbing. Andragogi adalah ilmu yang
membahas pendekatan dalam interaksi pembelajaran antara pendidik dan
peserta didik yang berusia dewasa. Semula Andragogi digunakan dalam
satuan pendidikan nonformal yang sistemik, namun sekarang pendekatan ini
sering pula diterapkan dalam satuan pendidikan formal terutama pada
satuan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.
Andragogi adalah ilmu dan seni untuk membantu orang dewasa belajar
(andragogy is the science and arts of helping adults learn). Menurut
Knowles (1977), pada tahun tujuh puluhan pendekatan pembelajaran ini di
anggap sebagai lawan pedagogi (andragogy versus pedagogy). Pedagogi
adalah ilmu dan seni mengajar anak-anak (pedagogy is the science and
arts of teaching children). Sejak awal tahun delapan puluhan,
dikembangkan pendekatan kontinum (continuum learning approach) atau
pendekatan berdaur dan berkelanjutan dalam pembelajaran (Knowles, 1980;
Cross, 1982). Pendekatan ini dapat dimulai daripedagogi dilanjutkan ke
andragogi; atau sebaliknya, yaitu berawal dari andragogi dilanjutkan ke
pedagogi, dan seterusnya.
Pembahasan tentang andragogi akan difokuskan pada prinsip-prinsip,
strategi, metode teknik dan media pembelajaran untuk membelajarkan
peserta didik sesuai dengan kebutuhan belajar dan potensi diri peserta
didik serta lingkungannyadalam satuan pendidikan yang sistemik.
Orang Dewasa Sebagai Pemegang Peran dalam Andragogi
Orang
dewasa adalah orang yang telah memiliki kematangan fungsi biologis,
sosial dan psikologis dalam mempertimbangkan, bertanggung jawab dan
berperan dalam kehidupannya. Orang dewasa tidak hanya dapat dapat
dilihat dari segi biologis, seseorang disebut dewasa apabila telah mampu
melakukan reproduksi, dan secara fisik telah lepas dari ciri anak-anak
dan remaja. Secara sosial, seseorang telah dianggap dewasa apabila telah
mampu melakukan peran-peran sosial yang bisa dilaksanakan oleh orang
dewasa. Secara psikologis, orang dewasa dipandang telah memiliki
tanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambil dan terhadap masa
depan kehidupannya. Secara fungsional, orang dikatakan dewasa apabila ia
dapat melaksanakan fungsi kehidupannya dalam keluarga, lingkungan
kerja, dam masyarakat. Mahasiswa pun termasuk pada kategori orang
dewasa.
Prinsip-prinsip dan Strategi pembelajaran Berbasis Andragogi
Dalam menggunakan pembelajaran berbasis andragogi perlu memperhatikan prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut:
- Orang dewasa memiliki konsep diri.
- Orang dewasa memiliki akumulasi pengalaman.
- Orang dewasa memiliki kesiapan belajar.
- Orang dewasa menginginkan dapat segera memanfaatkan hasil belajar.
- Orang dewasa memiliki kemampuan belajar.
- Orang dewasa dapat belajar efektif apabila melibatkan aktifitas mental dan fisik.
Perubahan Dimensi-dimensi Mendewasa dalam Andragogi
Manusia
mendewasa memerlukan suatu prakondisi, yaitu proses belajar yang dapat
mengembangkan dimensi sikap dan prilaku mendewasa (maturing person).
Dimensi mendewasa yang dikemukakan oleh Harry Overstreet yang kemudian
dikembangkan oleh Malcolm S. Knowles sebagai berikut:
- Perubahan dari menggantungkan diri kepada orang lain ke arah kehidupan mandiri.
- Perubahan dari sikap dan perilaku pasif ke arah sikap dan perilaku aktif.
- Perubahan dari sikap subjektifke arah sikap objektif.
- Perubahan dari sikap dan perilaku menerima informasi ke arah sikap dan perilaku memberikan informasi.
- Perubahan dari pemilikan kecakapan rendah ke arah pemilikan kecakapan lebih tinggi.
- Perubahan dari tanggung jawab terbatas ke arah tanggung jawab lebih luas.
- Perubahan dari pemilikan minat khusus ke arah pemilikan minat beragam.
- Perubahan dari sikap mementingkan diri sendiri ke arah berfikir prinsip.
- Perubahan dari sikap menolak kenyataan diri sendiri ke arah menerima kenyatan diri sendiri.
- Perubahan dari identitas diri beragamke arah integrasi diri.
- Perubahan dari berfikir teknis ke arah berpikir prinsip.
- Perubahan dari pandangan mendatar ke pandangan mendalam.
- Perubahan dari sikap dan perilaku meniru ke arah sikap dan perilaku berinovasi.
- Perubahan dari sikap keseragaman ke arah sikap tenggang rasa terhadap perbedaan.
- Perubahan dari sikap emosional ke sikap rasional.
Metode pembelajaran, menurut Knowles (1977: 133), adalah cara
pengorganisasian peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Metode
mencakup pembelajaran induvidual, pembelajaran kelompok, dan
pembelajaran komunitas. Teknik pembelajaran adalah cara membelajarkan
yang dipilih sesuai dengan metode pembelajaran yang digunakan. Sedangkan
alat bantu (devices) adalah sarana pembelajaran terdirri atas video tape, over head projector, komputer, dsb.
Fungsi metode adalah untuk membantu pembelajaran peserta didik melalui
formula pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dapat berupa pembibingan,
penyampaian informasi dan pelatihan. Pendidik bukan satu-satunya sumber
belajar, sehingga peserta didik dapat pula belajar dari media masa, nara sumber yang berhasil dan pengalaman sendiri dan orang lain.
Langkah penggunaan metode pembelajaran dalam andragogi. Langkah
pendidik sebagai fasilitator pembelajaran dapat dilakukan sebagai
berikut:
- Membina keakraban antar peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik.
- Mengidentivikasi kebutuhan belajar, sumber-sumber dan hambatan yang mungkin terjadi dalam pembelajaran.
- Merumuskan tujuan pembelajaran.
- Menyusun program pembelajaran.
- Melaksanakan program pembelajaran.
- Mengevaluasi proses, hasil dan pengaruh pembelajaran.
Uraian langkah-langkah pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.Tahap pembinaan keakraban.
Tahap ini bertujuan mengkondisinikan peserta didik supaya saling
mengenal antara satu dengan yang lainnya sehingga tumbuh suasana akrab
antar peserta didik dan antara peserta didik dengan pendidik.
Teknik-teknik pembelajaran yang dapat digunakan antara lain adalah:
Diad, Triad, Kartu sejoli, Pengajuan harapan, pembentukan tim atau
Pecahan bujur sangkar (Broken Square).
2.Tahap identifikasi kebutuhan, sumber-sumber dan kemungkinan hambatan.
Tahap ini bertujuan memotivasi peserta didik sehingga kegiatan
pembelajaran dirasakan menjadi milik mereka bersama. Identifikasi
kebutuhan dilakukan dengan menghimpun informasi melalui pernyataan yang
disampaikan peserta didik tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan
nilai-nilai yang ingin mereka perolehdalam pembelajaran.
Teknik-teknik pembelajaran yang dapat dilakukan dalam tahap ini adalah:
sadap pendapat, diskusi kelompok, nominal group process, lembar isian
kebutuhan,kartu SKBM (Sumber dan Kebutuhan Belajar Masyarakat),
wawancara, dsb.
3.Tahap perumusan tujuan pembelajaran
Tahap ini bertujuan untuk membantu peserta didik untuk menyusun dan
menetapkan tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan
berdasarkan hasil-hasil diagnosis kebutuhan belajar, sumber-sumber dan
kemungkinan hambatan dalam pembelajaran.
Teknik-teknik yang digunakan antara lain adalah: diskusi kelompok,
nominal group process, delphi, sadap pendapat, analisis tugas, atau
pilihan quota (Q-sort).
4.Tahap penyusunan program pembelajaran
Tahap ini bertujuan melibatkan peserta didik dalam menyatakan, memilih,
menyusun dan menetapkan program pembelajaran yang akan mereka lakukan.
Program pembelajaran ini mencakup materi yang akan dipelajari,
metode-teknik-media pembelajaran, tenaga kependidikan, fasilitas dan
alat, waktu pembelajaran, serta daya dukung lainnya.
Teknik-teknik pembelajaran yang dapat digunakan dalam tahap ini antara
lain: model tingkah laku, diskusi kelompok, analisis tugas dan simulasi.
5.Tahap pelaksanaan progran pembelajaran
Tahap ini bertujuan melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran
sesuai dengan program pembelajaran yang telah mereka sepakati. Dalam
pelaksanan pembelajaran, peserta didik bertugas untuk melakukan kegiatan
belajar, sedangkan tugas pendidik adalah membelajarkan atau membantu
peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Teknik-teknik pembelajaran yang dapat dilakukan dalam tahapan ini
antara lain: Jawaban terinci, cawan ikan, diskusi, analisis masalah
kritis, situasi hipotensis, study kasus, kunjungan studi, bermain peran,
atau simulasi.
6.Tahap penilaian program pembelajaran
Tahap ini bertujuan melibatkan peserta didik dalam penilaian terhadap
proses, hasil, dan pengaruh pembelajaran. Penilaian adalah upaya
pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data atau informasi
sebagai masukan bagi pengambilan keputusan tentang program pembelajaran.
Teknik-teknik pembelajaran yang dapat digunakan dalam tahap ini antara
lain: jawab terperinci, cawan ikan, lempar pendapat, diskusi terfokus,
angket, wawancara dan atau observasi.
Label:
ARTIKEL PENDIDIKAN
Langganan:
Postingan
(
Atom
)
Home